October 14, 2008
Troli
Kalau dulu, pada awal eranya supermarket, troli bentuknya relatif kecil, sesuai dengan lebar lorong tempat berbelanja. Sekarang ini, dengan berkembangnya supermarket menjadi hypermarket dengan area dan koridor yang lebih luas, bentuk troli menjadi lebih jumbo. Bisa sekalian dimuati anak-anak.
Padahal, sejalan dengan semakin ramainya pengunjung di sebuah hypermarket, koridor yang tadinya didisain lebar agar mampu menampung ukuran troli yang jumbo ternyata laku juga dijual.
Sekarang, boleh dibilang tidak ada ruang yang menganggur. Koridor yang tadinya buat jalan ditempatkan juga rak-rak barang. Alhasil, troli-troli yang jumbo itu harus melewati lorong sempit mirip gang kelinci.
Haibatnya lagi, kalau sudah masuk hypermarket tanpa dorong-dorong troli rasanya kurang afdol kali. Biar disangkanya lagi mau goyang ngebor nih. Alias ngeborong. Cucok ituh! :P
Gak peduli belinya cuma satu bungkus mie instan yang penting taruh di troli. Daripada bawa tas jinjing kek empok-empok belanja di pasar comberan. Sisa tempat trolinya buat naruh anak-anaknya yang bejibun. Dorong sana, dorong sini, wuih topdah!
Masalahnya adalah ketika akhir pekan, mana tanggal muda, mana menjelang lebaran pula. Hypermarket berubah seperti taman hiburan keluarga. Pengunjungnya berdesak-desakan. Masih ditambah dengan troli-troli yang hilir mudik kesana kemari.
Yang namanya macet biasanya ada di jalan raya, kini pindah ke dalam hypermarket. Mau maju ke depan ada troli yang lagi ngetem. Mau mundur, ada troli yang mau maju. Mau belok kanan, ada yang markir troli seenak udelnya. Mana yang punya troli gak jelas lagi ada di mana. Sip!
Masih untung juga sih, troli-troli itu tidak dilengkapi klakson dan lampu sign. :P
Dalam keadaan seperti itu, bisa dibilang, troli -troli itu bukannya membantu tetapi malah mengganggu.
Pas lagi enak-enak milih-milih barang, jeduk! Pantat kanan kena troli. Pindah ke rak sebelah, mak jeduk! Ganti pantat kiri yang kena. Beh, genap tiga kali keseruduk troli, bukannya dapat gelas cantik tapi pantat jadi tepos!
Akhirnya, saya cuma bisa ngedumel sama siwir, mbok yao kalau belanja kebutuhan sehari-hari gak usahlah nunggu belanja di hypermarket. Begitu ada yang habis, beli aja di minimarket yang dekat rumah.
Toh, kalau buat kebutuhan berdua saja, minimarket juga sudah cukup representatif. Belum tentu juga, harganya di hypermarket lebih murah dibandingkan di minimarket. Mana masih keluar ongkos transport plus biaya pijat pantat biar gak tepos.
Mungkin sudah saatnya bagi para pengelola menyedikan tenaga pengatur lalu lintas troli, atau kalau perlu buat trolleyway seperti busway-nya orang Jakarta. Biar gak macet! :P
