June 20, 2008

Nyampai Juga Di Katulampa 

Hehehe, bener juga apa yang dibilang Toti dalam sebuah komennya, kalo sepeda saya, sepeda banci. Bukan sepeda laki-laki yang keliatan keren dan gagah perkakas gitu.

Yah, mau gimana lagi, sebenernya pengen juga sepeda yang kaya dipakai mas-mas dan mbak-mbak anggota komunitas sepeda itu. Tapi kan itu harganya berjetong-jetong. Mana kalau mereknya semakin gak umum, harganya juga semakin diluar kemampuan saya umum-umum saja.

Dulu sih rencananya sekedar buat keliling komplek saja. Lantas ke mini market terdekat buat belanja keperluan sehari-hari. Makanya pilihan jatuh ke blue energy, maksudnya blue jengky alias si jengki biru yang ada kranjangnya di depan. Harganya masih di bawah satu jetong yang jelas.

Dan memang efektif banget kalau buat ke mini market. Soalnya belanjaan bisa ditaruh di kranjang. Bayangin kalau naek yang jenis MTB, terpaksa masih nenteng-nenteng belanjaan. Lebih berisiko tentunya. Mana ini Bogor gitu loh, bukan kayak Jakarta yang jalannya datar-datar saja.

Kalau misalnya jalan kaki ke mini market, jaraknya masih lumayan jauh, berkeringat pastinya. Mau naik angkot, kelamaan nunggunya. Mau naik ojek, mahal dan jahat. Mau naik motor sendiri, belum punya motor karena harganya tentu lebih mahal lagi dibandingin sepeda banci.

Tetapi pada kenyataan blue jengky ini gak sebanci yang dikira orang kok. Apalagi sesudah hampir dua bulanan ini, setiap hari dengan setianya mengantar majikannya pulang pergi ke Stasiun Cilebut.

Menembus kegelapan malam kalau pas pulangnya naik kereta terakhir, kehujanan, dan menerjang genangan air kalau pas jalannya banjir.

Setelah memaknai dan merenungi nasib ketika bersepeda *anjrit bahasanya :P*, ternyata intinya bersepeda itu: 1. niat, 2. dengkul, dan 3. paru-paru.

Bisa dibilang, sepedanya sendiri menempati urutan ke sekian. Memang sih lebih baik lagi kalau sepedanya yang bagus sekalian. Cuma ya itu, butuh modal yang besar bos!

Buktinya, Sabtu kemarin, si banci nyampai juga kok di Katulampa, bendungan yang namanya menjadi hit, saat Jakarta kerendem air pipisnya orang se-Bogor :D

Start dari Tamansapi berlima, menyusuri jalan raya Parung Bogor, jalan baru, Pajajaran, belok ke Indraprasta terus nanjak ke arah Katulampa, akhirnya nyampe juga di pintu airnya :D