June 03, 2008
Kapan Komplitnya?
Paris tidak dibangun dalam semalam! Begitulah pepatah orang bijak mengatakan untuk mengambarkan bahwa segala sesuatu memerlukan proses yang memakan waktu.
Proses sendiri memang tergantung pada situasi dan kondisi. Ada yang prosesnya cepat, tapi ada juga yang lambat. Terlebih bila proses tersebut dikaitkan dengan masalah sumber dana yang terbatas sedangkan kepuasan manusia yang tak terbatas. Capek deh! :P
Semuanya tidak lantas 'simsalabim abrakadabra', tiba-tiba cling, semua yang dibutuhkan ada di depan mata. Semuanya terpenuhi dan serba lengkap.
Pastinya dengan membeli satu persatu dulu barang atau sesuatu yang kita butuhkan. Baru kemudian menjadi lengkap seperti yang inginkan. Kadang, malah perlu mengambil kreditan segala untuk mencukupi kebutuhan.
Sebagai pembanding, butuh berapa tahun rumah kita bisa selengkap seperti sekarang ini? Bagaimana orang tua kita dulu melengkapi isi rumah?
Asumsikan kita berasal dari golongan, yah boleh dibilang umum-umum saja dan blas gak dapat warisan dari engkong dengan jumlah yang bejibun. :(
Sama saja dengan yang saya alami sekarang ini.
Tanggal 9 Mei, saya resmi pindah dan menetap di Bogor, setelah sekitar 17 tahun menjadi penghuni tetap dunia kosan. 17 Tahun! Yup, believe me! Skip saja ceritanya, karena terlalu puanjuanggg skaleee kisahnya jadi anak kos. :P
Balik ke cerita pindahan yang tanggal 9, secara kebetulan pula, rumah kami bernomor 9. Klop dengan tanggal pindahannya! :D
Koinsiden saja! Jangan diutak-atik, terus buat nembak togel atau ngramal nasib ye? :D
Namanya juga baru pindahan, boleh dibilang ketika masuk rumah, keadaannya masih kosong melompong. Kalaupun ada barang, itu juga sisa-sisa peninggalan jaman kos-kosan. Terus terang masih minim sekali.
Sekarang baru terasa serba kekurangannya. Asal tahu saja, gorden ruang tamu masih saya tutup pakai sprei kasur bekas yang sudah pada robek. Pada bagian yang robek saya selotip, biar gak lo intip! :D *Gak tega naruh skrinsyut gorden cemong di sini*
Sama saja dengan kamar tidur yang gordennya memakai kain asal-asalan plus koran bekas, asal tertutup. Itung-itung recycle, biar dibilang rumah dengan konsep ramah lingkungan. *ngeles* :P
Piring cuma punya 2 buah bekas di kosan dulu, bahannya yang dari melamin. Sendok dan garpu punya punya 2 pasang. Kalau mug, banyak. Soalnya doyan ngupi, makanya suka beli mug.
Lemari belum punya, makanya baju-baju diletakkan apa adanya di tempat tidur, sekedar ditutupi pakai koran dan plastik-plastik bekas biar tidak kotor. Itu juga sudah bagos! :D
Berarti punya tempat tidur dong? Sudah punya sih, tapi kasurnya belum ada, di atas tempat tidur hanya dialasi sarung. Bantal? Lumayan ada 6 plus guling 1. Dulu belinya waktu masih ngekos. Yah, asal bisa ngurok ya sudahlah. Jangan tanya rasanya pinggang kaya apa waktu bangun tidur?
Itu pinggang sakit karena tidur tanpa kasur atau karena keseringan main 'bagong-bagongan' sama bini? Kayaknya sih, karena keseringan main 'bagong-bagongan' tanpa kasur! Pinggang sama dengkul rasanya, pedih jenderal! :P
Belum ember, pisau, penjepit jemuran, hanger baju, kapstok, tali jemuran, kipas angin, meja, kursi, rak buku, keset, taplak meja, garam, gula, tempat menaruh perangkat lenong, perkakas tukang, kulkas, mesin cuci, AC, sepeda motor, mobil, kapal pesiar, dan lain sebagainya. Dari yang terkecil sampai ke yang terbesar.
Kira-kira sampai kapan ya semuanya bisa komplit? Kampret! :P
