July 21, 2006

Perkenankan Saya Berdoa 

'Lo, there do I see my father.
'Lo, there do I see my mother, and my sisters, and my brothers.
'Lo, there do I see the line of my people. Back to the beginning.
'Lo, they do call to me.
They bid me take my place among them.
In the halls of Valhalla, where the brave, may live, forever!

=====
# The 13th Warrior, praying before the battle act with the eater of the death.


Anggaplah karena keadaan, yang dengan terpaksa atau tidak, yang mengharuskan saya untuk melanjutkan tanggungjawab kedua orang tua saya, yang belum sempat terselesaikan hingga akhir hayatnya. Sebagai orang tua, mereka tidak sempat menikahkan keseluruhan anak-anaknya. Hanya sebagian saja. Yang sebagian itu salah satunya adik saya. Selain itu memang bisa dibilang, inilah salah tanggungjawab saya sebagai kakaknya. Mengantarkannya ke jenjang kehidupan berumah-tangga.

Tentu saja saudara kandung saya yang lainnya turut membantu pula. Hanya saja mereka mengharapkan saya bisa berperan lebih. Alasannya sederhana, mereka menganggap tanggungjawab saya belum begitu banyak dibandingkan dengan mereka.

Boleh dibilang berat juga. Secara materi, tabungan saya sudah habis buat membayar uang muka rumah akhir tahun lalu. Setelah itu, saya mulai lagi menabung lagi. Tapi itupun tidak bisa seperti dulu, karena sejak Januari kemarin saya harus sudah mulai membayar angsuran KPR. Masih butuh banyak buat renovasi tambahan sekedarnya. Termasuk juga membeli berbagai keperluan standar untuk melengkapinya. Secara non materi, baru pertama kali ini diberi tanggungjawab yang menurut saya berat karena saya sendiri belum pernah mengalaminya.

Tapi baiklah kalau memang ini semua harus menjadi tanggungjawab saya, saya ambil! Doakan saja semoga semuanya berjalan dengan lancar. Sekarang sayapun juga ingin berdoa sebelum pulang ke rumah. Ke rumah orang tua kami di kampung.

July 14, 2006

Si Pirang 

Betul sekali! Bola sudah habis dan sebaiknya kita cerita tentang yang lainnya saja. Nah, bagaimana kalau sekarang kita bercerita mengenai dua anak perempuan kecil berambut pirang? Menarik?

Begini, barangkali bukanlah keanehan lagi bagi kita bila segala sesuatu yang memang sudah pada tempatnya. Lantas kitapun menganggap hal-hal semacam itu wajar-wajar saja. Sebagai misal melihat anak kecil yang rambutnya di cat warna kepirang-pirangan di kota-kota besar, seperti di Jakarta misalnya. Atau di tempat-tempat tertentu tapi letaknya di tengah-tengah perkotaan.

Tetapi hal itu bisa berubah menjadi sedikit 'aneh', katakanlah menjadi menarik kalau memang tidak mau disebut dengan kata 'aneh', bila kita melihatnya di sebuah kampuang nan jauh di mato. Tepatnya di sebuah tempat wisata di kaki Bukit Barisan sana. Daerah ini masih termasuk bagian dari kota Payakumbuh, kira-kira sejam perjalanan dari kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Dengan alasan sesuatu yang tidak biasa itulah makanya mata saya langsung tertuju pada si pirang saat ia bersama kawanan anak kecil sedang mandi bersama di pemandian. Letak pemandiannya tepat di bawah siraman air terjun kecil yang mengalir dari atas dinding bukit cadas. Dia terlihat berbeda dibandingkan lainnya. Kalau teman-temannya berambut hitam seperti umumnya rambut kita, tapi tidak dengan anak itu. Dia pirang!

Ketika dia berlari melintas ke arah saya berdiri, nyatanya memang benar. Rambutnya pirang! Kemudian dia masuk ke sebuah warung makanan yang berjejer di pinggir seberang jalan, dan ternyata muncul anak kecil perempuan yang lainnya. Herannya anak yang baru muncul pirang juga! Jadinya sekarang ada dua anak perempuan kecil pirang. Yang satu rambutnya panjang dan satunya lagi rambut pendek sebahu, bagian atasnya dikuncir.

Barangkali memang sengaja rambutnya di cat pirang kali, dugaan saya semula. Setelah saya mampir ke warung itu, kemudian ngobrol dan bertanya-tanya kepada ibu penjual, barulah saya tahu tentang anak itu.

Ibu penjual itu neneknya mereka. Katanya dia pirang sejak lahir. Padahal ayah dan ibunya biasa-biasa saja. Tidak pirang dan kulitnya juga seperti kebanyakan orang-orang melayu lainnya. Kebetulan saat bercerita, ibu penjual ini menunjuk ke arah orang tuanya. Malahan saya lihat ayahnya yang baru pulang berkulit hitam legam.

Saya juga sempat mendekati anak-anak itu dan memegang rambutnya. Asli! Tidak seperti rambut yang dicat. Saya perhatikan kulitnya juga nampak sehat. Saat saya pegang tangannya, kulitnya tidak terasa kasar bersisik. Semuanya normal-normal saja. Ngomongnya juga padang, malahan sempat melihat mereka makan sate padang segala. :D

Hanya sebatas ini cerita yang saya tahu. Selebihnya kurang mengerti karena saat ibu penjual itu bercerita sering terselip bahasa minang. Apalagi ditambah tawa terkekeh-kekeh berbunyi nyaring mirip suara Mak Lampir. Ambo pusiang etek soalnyo kadit itreng nih! :P

Selama ini yang pernah saya lihat penderita albino dewasa. Kalau penderita albino pada usia anak-anak, belum pernah. Apakah anak-anak perempuan pirang itu menderita albino? Ataukah ada sebab-sebab lainnya? Saya sendiri tak tahu pastinya.

Selepas dari obyek wisata air terjun dan pemandangan indah Bukit Barisan di Arau, kamipun balik lagi ke Bukit Tinggi buat bermalam. Besoknya barulah ke Padang lewat Maninjau. Di kota ini, tentu saja kami menyempatkan jalan-jalan di kawasan jam gadang dan pasar atas, atau pasar ateh orang minang menyebutnya. Benar juga kata seorang kawan dari Padang yang mengatakan adanya kesalahan tulis bilangan romawi pada jam gadang. Angka empat bukannya ditulis 'IV' melainkan 'IIII'.







July 05, 2006

No Kaos No Cry 

Modyarrr.....Jerman kalah!!!!!!

Padahal rencananya kalau Jerman menang, gw mau beli kaos tim Jerman. Piala dunia 2002 waktu Jerman masuk final, gw bela-belain beli kaosnya seharga 20 ribuan (kurs saat PD 2002 :P). Sampai sekarang kaosnya juga masih ada dan masih sering gw pakai.

Di kampung worldcup kemarin sempat ngeliat kaos-kaos tim negara peserta piala dunia, dijual 50 ribuan (kurs saat babak penyisihan :P). Buat PD 2006, kaos Jerman agak beda dengan kaosnya pas PD 2002. Di bagian pinggang kanan dan kiri ada coretan warna merah, kuning, dan hitam.

Secara Jerman sudah kalah yo wis lah! Giblik! Gw keknya gak jadi beli kaosnya. No kaos no cry :P