November 13, 2006
Unforgettable Moment of Lebaran

Berlebaran di kampung itu selain untuk bersilaturahmi dengan sanak-saudara, juga merupakan ajang untuk bertemu kembali dengan teman-teman lama semasa sekolah dulu.
Kebanyakan dari kami, selepas SMA langsung merantau ke kota-kota pelajar untuk melanjutkan kuliah karena di kota kami yang notabene kota kecil, tidak memiliki universitas negeri atau universitas swasta dengan kualitas yang bagus. Setelahnya, diantara kami jarang yang kembali lagi ke kota kelahiran setelah lulus kuliah, melainkan melanjutkan mencari pekerjaan di kota-kota tempat kuliah atau merantau ke kota lain.
Karena kebanyakan menetap di perantauan itulah makanya acara ketemuan dengan teman-teman lama semasa sekolah atau reuni istilahnya, banyak terjadi atau sengaja diadakan pada saat lebaran.
Bisa ditebak! Saat berkumpul kembali, banyak cerita-cerita masa lalu di jaman sekolah dulu yang menjadi bahan obrolan. Baik itu cerita-cerita seru berdasarkan kejadian yang dialami secara perseorangan maupun yang dilakukan secara bersama-sama.
Sebagai misal, ketika ada teman SD yang bertandang ke rumah di sore hari pada lebaran kedua, pokok perbincangan kami berkisar pada masa-masa bersekolah di SD dulu. Seringnya, kalimat tanya "kamu masih ingat gak sama...?" menjadi pembuka obrolan tentang kejadian-kejadian masa lalu yang pernah kami alami dan kini tinggal menjadi cerita saja.
Dari pertanyaan itu, ingatan kembali merangkai-rangkai urutan kejadian di waktu yang telah lalu. Lantas terjalinlah cerita yang bisa membangkitkan kenangan pada masa-masa ketika masih berseragam putih merah.
Inget gak kamu? Waktu itu kita pulang sekolah, terus nglewatin rumah orang yang lagi menjemur kasur. Terus, kasurnya kita buat guling-gulingan?
Tanpa dosa kami berjingkrak-jingkrak dan berjumpalitan di atas kasurnya orang yang sedang di jemur. Begitu yang punya kasur keluar rumah dan marah-marah, kami semua langsung berlarian sambil tertawa cekikikan.
Kami berduapun masih ingat waktu sepulang sekolah, lantas melihat pohon mangga yang tengah berbuah. Ya, kami ingin mencuri mangga itu. Sayangnya kami tidak mengukur-ukur dulu seberapa besar batu yang dibutuhkan buat melempar mangga tadi.
Pokoknya asal comot batu yang besar. Ternyata lemparan meleset dan mengenai genting rumah yang punya mangga. Tahu gentingnya pecah, kamipun langsung lari tunggang-langgang tanpa membawa mangga sebijipun karena ketakutan.
Ceritapun masih berlanjut seperti kisah ini. Sudah menjadi kebiasaan, jalan kami pulang ke rumah melewati sebuah SMA swasta. Waktu itu bel sekolahnya masih berupa besi batangan yang digantung pada pinggiran para-para. Kebetulan letak belnya dekat dengan jalan kecil yang kami lintasi.
Lantas kemudian kami berlima beradu ketepatan melempar batu ke arah bel besi itu. Teng, teng, teng, begitu bunyinya ketika lemparan batu mengenai bel!
Tanpa diduga, dari dalam kelas terdengar sorakan murid-murid SMA yang menyangka jam pelajaran telah usai. Kami sendiri tidak menyangka kalau akibatnya sampai kelas menjadi bubar. Seperti yang sudah-sudah, lari adalah aksi berikutnya! Keesokannya, kami tidak berani lagi melintasi jalan itu ketika hendak pulang ke rumah.
Tak jarang kami berdua, saya dan seorang teman SD, tertawa terpingkal-pingkal saat bernostalgia lewat cerita-cerita tadi.
Lain peristiwa, lain pula kenangannya! Juga saat berkumpul kembali dengan teman-teman semasa sekolah di SMA dulu pada suatu malam. Percakapanpun diantara kamipun masih berkisar pada masa lalu yang masih tetap tertanam kuat dalam benak.
Dari kisah-kisah seperti, seorang teman yang terpaksa absen sekolah gara-gara burungnya kejepit retsleting, ada juga yang absen gara-gara mau menangkap kembali kucingnya yang terlepas saat mau disuntikkan ke puskesmas, ketangkap basah waktu bolos sekolah dengan melompati pagar tembok belakang soalnya gurunya sudah menunggu dibalik tembok, kucing-kucingan dengan guru yang lagi sweeping rambut gondrong, mendekor panggung buat acara malam seni, sampai dengan kisah double kiwi dan samgong.
Sebaiknya dua cerita terakhir tak usahlah saya ceritakan. Tidak baik kalau sampai dicontoh anak-anak SMU sekarang. Intinya, badung banget! Herannya, cerita-cerita yang tetap kami ingat justru kisah-kisah yang erat berkaitan dengan kebadungan dan kebengalan jaman di sekolah dulu.
Setelah lebaran di kampung usai, kamipun lantas pulang balik menuju ke kota masing-masing.
Lebaran boleh saja usai. Cerita-cerita semacam itu boleh saja tak terceritakan lagi. Tetapi, ingatan akan semua peristiwa-peristiwa yang pernah kami alami akan tetap tersimpan sampai ada kesempatan buat menceritakannya lagi. Dan mungkin, cerita-cerita yang sama akan muncul kembali pada lebaran mendatang.
