September 13, 2006

Naik Gerbong Bekas 

Seperti biasanyalah bila ke Bogor, saya lebih suka naik KRL dibandingkan bis kota. Selain lebih cepat, juga karena jarak stasiun ke rumah lebih dekat. Sekali tempuh dengan angkot juga sudah sampai. Dan Sabtu kemarin, dengan menggendong tas ransel hitam di punggung, sayapun pergi ke Bogor dengan naik KRL.

Karena sebelum menuju stasiun, saya menyempatkan diri mampir ke Indomaret terdekat dengan rumah, jadinya begitu sampai di stasiun tak perlu waktu lama buat menunggu Pakuan yang berangkat jam 10:53 dari Gambir. Kira-kira cuma 10 menitan menunggu di peron lantai 2.

Ketika lokomotif KRL memasuki jalur 3, saya sempat membatin kalo ada yang berbeda dari biasanya pada kepala kereta itu. Dan begitu semakin dekat, benar saja ada yang beda. Warna catnya bagian depan tepat pada bagian lampu sekarang hijau muda. Kalau sebelumnya, warnanya oranye.

Begitu pintu gerbong terbuka, sayapun bergegas memasukinya. Sekilas, juga terasa kalau ada yang baru dalam gerbong ini. Baru setelah mengambil tempat duduk dekat pintu masuk sebelah kanan, menghadap ke arah timur, saya sempatkan memperhatikan keseluruhan suasana dalam gerbong ini.

Di sana-sini banyak terpampang huruf hiragana dan katagana.

Baru ingat saya! Seperti apa yang ditulis di koran-koran itu, awal atau pertengahan Agustus kemarin, lupa persisnya, datang lagi sekian gerbong bekas impor dari Jepang buat mengganti dan menambah gerbong-gerbong KRL yang sudah ada.

Sebenarnya saya membawa buku buat dibaca di perjalanan, tapi karena saya lebih tertarik untuk melihat-lihat, ditambah lagi sedikit kenangan yang terlintas, makanya saya teruskan saja melihat kanan kiri sambil terus membayangkan gerbong-gerbong ini.

Mungkin di negara asalnya sana, usia pakainya sudah mencapai 10 tahunan. Tetapi, biarpun bekas, kondisi gerbongnya masih terlihat bersih dan terawat baik. Catnya juga belum mengelupas. Terus, di langit-langit dan samping atas tempat duduk banyak terdapat space iklan sponsor. Sayangnya belum ada perusahaan yang mau mengiklankan produknya di sini. Selain itu, kipas anginnya juga masih nampak bersih, belum berkarat. Memang waktu itu tidak menyala kipasnya.

Seingat saya, kipas angin ini baru dinyalakan saat pergantian musim, dari musim semi ke musim panas. Baru setelah benar-benar memasuki musim panas, ACnya dinyalakan dan kipas angin dimatikan. Tak jauh dari kipas angin ada semacam kotak, dengan kisi-kisi tempat keluarnya udara. Dugaan saya itu semacam kotak AC sekalian juga heater.

Setahu saya, untuk gerbong jenis yang lebih baru, rancang bangunnya sudah tampak kompak, jadinya kotak pendingin udara dan heater ini sudah tidak terlihat mata. Gerbong ini dirancang untuk empat musim sesuai kondisi negara pembuatnya. Jadinya waktu musim dingin, tentu saja penumpang lebih membutuhkan pemanas dibandingkan pendingin udara.

Basi banget, kalau sampai masinisnya iseng-iseng menyalakan heater di saat kemarau panjang melanda Jakarta seperti ini. Sekedar berandai-andai saja sih.

Dibandingkan gerbong KRL yang lama, gerbong bekas yang baru dipakai ini memiliki gelang-gelang gantungan buat pegangan tangan lebih banyak. Ada yang panjang, terletak di pinggiran dekat tempat duduk, dan ada juga yang lebih pendek, terjejer menggantung di tengah koridor.

Ya, kayaknya memang lebih banyak...

Secara kebetulan, di pojok dekat bordes, ada dua anak usia-usia SD, sedang bergelantungan sambil berayun-ayun pada tali pegangan. Satu temannya yang lagi duduk mendorong pantat teman-temannya buat mengayun.

Entahlah! Mungkin pegangan tangannya sama banyak dengan gerbong yang lama. Tapi karena talinya pada putus buat ayunan, jadinya tinggal sedikit. Akhirnya saya meralat pikiran saya sendiri, begitu melihat dua anak itu sedang berayun.

Ups, sampai lupa bercerita saya! Gerbong yang ini tempat duduknya dibalut kain coklat tua, berselang-seling dengan warna coklat muda. Kalau yang lama, hampir semuanya berwarna hijau tua kecuali tempat duduk khusus bertanda 'for those who need' yang memakai warna hijau muda.

Seingat saya, untuk gerbong jenis yang lebih baru lagi, seperti yang digunakan rute Chiyoda Line, sudah ada penunjuk digital di atas pintu dan sambungan. Buat memberitahukan kepada para penumpang stasiun apa yang berikutnya.

Masih ditambah lagi pemberitahuan melalui pengeras suara, buat orang-orang buta yang tidak dapat membaca penunjuk digital.

Yah, mirip-mirip busway lah! The next destination is...

Biarpun tidak ada penunjuk digital, minimal kalau ada pengingat suara seperti yang di busway itu, kan memudahkan penumpang. Toh, tidak semua penumpang KRL ini adalah penumpang tetap yang sudah hafal betul urut-urutan stasiun sepanjang jalur.

Sayang gerbong ini tidak ada. Atau ada tapi tidak difungsikan? Malas berpikir rasanya! Soalnya, yang tali pegangan tadi saya sudah salah duga sepertinya.

Meskipun sering bolak-balik Jakarta Bogor dan sebaliknya, tetapi saya sendiri belum juga hafal urut-urutan stasiun dari Gambir. Paling-paling, Juanda Gambir Manggarai. Itu juga karena bangunan stasiunnya paling bagus dibandingkan dengan yang lainnya. Selepas itu, blank! Tahu-tahu sudah sampai di Bogor.

Memang ada sih tulisan nama stasiun, tapi kan tidak semudah itu melihatnya. Apalagi kalau penumpangnya sedang penuh.

Sesekali saya melihat keluar jendela yang di depan, buat melihat keadaan di luar, sekedar memastikan sudah sampai di mana. Tetap saja, tidak ingat. Ditambah sedari tadi melamun terus.

Lantas...

DUARRRRR!!!

A ha! Saya ingat sekarang! Ya, ingat! Yakin seyakin-yakinnya! Ini pasti sudah sampai daerah antara Pasar Minggu dan Lenteng Agung. Saya hafal betul suara barusan. Itu bunyi timpukan batu yang mengenai badan gerbong kereta. Kebetulan mengenai pintu di sisi sebelah kiri tempat duduk saya.

Selalu dan selalu di sekitar wilayah sini, KRL yang tengah melintas ditimpuki batu. Belum pernah saya mengalami penimpukan kereta di tempat-tempat lain. Malahan pernah saya lihat sendiri sampai kacanya pecah berkeping-keping, berserakan di tempat duduk dan lantai.

Beberapa kali saya jumpai, mereka yang menimpuk KRL itu anak-anak usia tanggung yang sering duduk-duduk di pinggiran rel. Tampaknya mereka anak-anak sekitar situ situ juga. Mungkin mereka berasal dari keluarga...

Ah, sudahlah! Enggan rasanya menyinggung-menyinggung masalah ini. Cukup sensitif soalnya. Sampai sekarang saya juga tidak tahu mengapa mereka senang sekali menimpuki KRL yang sedang lewat?

Tapi, sebentar...

Tiba-tiba saya jadi teringat analisis seorang ahli sosiologi, mereka itu berbuat anarkis karena alasan kemiskinan. Apapun tindakan yang mereka lakukan, ujung-ujungnya, motifnya selalu sama, karena miskin. Mungkin ada benarnya juga analisis si pakar itu.

Karena kita miskin, kita mampunya beli gerbong bekas. Karena gerbongnya bekas, makanya gampang ditimpuki. Coba kalau kita kaya, kita bisa membeli kereta bullet train sekelas Shinkansen. Dijamin deh, sebelum anak-anak badung itu memungut batu, wushhh...keretanya sudah hilang! :P