August 23, 2005

The Art of 'Oges Lecep' 

Bagi orang-orang seperti kami ini, sudah terbiasa menyebutnya dengan nama 'oges lecep'. Kebalikan dari 'sego pecel', nasi pecel dalam bahasa Indonesia. Nasi pecel merupakan makanan khas dari sebuah kota kecil, bekas tanah perdikan. Pada dasarnya nasi pecel terdiri dari nasi putih ditambah dengan sayuran rebus seperti daun singkong, daun pepaya, bayam, kenikir, kacang panjang, kecambah, daun kemangi, dan lain-lain. Serta tentunya sambal pecel itu sendiri. Yang terakhir inilah syarat utama agar makanan tersebut bisa disebut pecel.

Sebagai pelengkap nasi pecel, ada yang menambahkan dengan ragi atau srundeng--kelapa parutan yang digoreng, orek tempe atau kering, serta lamtoro. Di beberapa daerah tertentu ada yang ditambah dengan sedikit lodeh tempe. Orang-orang menyebutnya pecel 'tumpang'.

Sedangkan untuk lauk-pauk, kita bisa memilih telor mata sapi, dadar, empal, usus goreng, tempe, atau lauk-pauk jenis lainnya. Umumnya, pada nasi pecel yang sifatnya masih tradisional, selalu disertakan rempeyek atau lempeng--sejenis krupuk dari beras. Cara penyajiannyapun masih menggunakan daun pisang sebagai wadah atau 'pincuk'.

Boleh dibilang, rasa bumbu pecel tidak ada yang standar. Perbedaan rasa lebih disebabkan oleh selera orang dari masing-masing daerah dan tentu saja peracik bumbu pecel itu sendiri. Untuk jenis pecel khas suroboyoan, bumbu pecel dicampur dengan kencur. Sedangkan untuk pecel khas jawa tengahan, umumnya rasa sambal pecel cenderung agak manis. Meskipun berbeda rasa, tetapi kesemuanya tetap sah dan bisa dibilang 'oges lecep'.

Sebenarnya tidak ada pembatasan waktu secara khusus dalam hal makan nasi pecel. Bisa untuk sarapan pagi, makan siang, ataupun malam hari. Hanya saja 'mecel' atau makan nasi pecel seringkali diidentikkan dengan makan di waktu malam.

Mecel di malam hari memang terasa lebih nikmat. Terlebih duduknya di lincak, bangku panjang berkaki rendah, di sebuah warung angkringan. Karena sehabis makan, bagi para penikmat malam bisa melanjutkan dengan obrolan lepas sambil ngopi. Namanya juga ngobrol, bisa sekedar guyonan biasa, omong-kosong, gosip kanan kiri, ataupun gegap-gempita gemuruh politik.

Apapun yang diperbincangkan, itu tidak penting. Karena semuanya masih makan sepincuk nasi pecel. Dan itulah inti utama the art of 'oges lecep'. Mecel! Apalagi saat mecel dari radio transistornya si penjual terdengar sayup-sayup suara kenes Waljinah...Jangkreeekkkkkkkk, genggong. Bareng dilirik, lha kok bagong?! :P



Image hosted by Photobucket.com

August 11, 2005

Semua Karena Emak 



Rasanya belum ada yang berubah. Barangkali karena saya anaknya emak yang paling cuakep sendiri sedunia. Begitu kata emak dulu, waktu siwoer masih imut-imut jabang baby. *Protes? jitak ampe capek :P* Makanya sampai sekarang, kalau membeli sesuatu untuk keperluan sehari-hari belum bisa lepas dari pengaruh emak.

Paling-paling kalau masuk ke supermarket atau indomaret yang dekat dengan rumah, yang diambil ya itu itu saja. Sabun lifebuoy, pasta gigi pepsodent, shampo sunsilk. Semuanya tinggal comot saja. Tanpa perlu pikir panjang atau pilih-pilih. Kalaupun ada yang nanya, kenapa yang diambil yang itu. Jawabannya gampang saja. Lah dulu emak yang dibeli juga itu kok. Makanya saya tinggal mengikuti saja. Anggap saja, sudah tradisi. Semua karena emak.

Lah kalau yang itu, yang tiap pagi diributin sama si bibik? hehehehe...gw lupa. Yang jelas dari dulu belinya cap buaya mangap. Jadinya sampai sekarang masih setia sama cap buaya mangap. Anti slip. Lagian kalau dipakai rasanya...mak nyesss ;)

Masak sih? Udah dibilangan kaga percaya! Gw cipok nyahok lo :P


======
Update:

M e r d e k a !!!



Image hosted by Photobucket.com

August 04, 2005

My Body Is Not Delicious 

Menggigil.

Mandi.

Dagu berdarah kena silet.

"Bik, mana sempakku kok gak ada sih, emang gw ngantor gak sempakan apa?"
"Sek mas, tak cari dulu ya!".

Warna tisu berubah merah.

Jaket kumal. Tergantung di gantungan paling ujung. Berdebu.

"Bilang ke mak lampir, ini duitnya bik."
"Iya, mas. Ntar saya kasihin ke mak lampir. Aquanya masih mas?"
"Masih, bik."

Berkeringat.

Same old song. M 97 FM.

Lidah pahit.

Rasa nasi jadi aneh.

Kopi? Sama saja. Pahit.

Mual-mual.

Note: "Jam 19:00. Hadiri!".

Menggigil parah.